TOT Pemantauan Daerah Sebar Penyakit Anjing Gila (Rabies)

Januari, 2010. Rabies merupakan penyakit zoonosis yang berdampak sangat luas, baik social maupun ekonomi, oleh karena itu perlu mendapatkan prioritas dalam pengendalian dan pemberantasannya. Penyakit anjing gila (Rabies) dikenal juga sebagai Lyssa, Tollwut, Rage, dan Hydrophobia, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus neurotropik dari genus Lyssavirus, family Rhabdoviridae dan ditularkan melalui gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) terutama anjing, kucing dan kera. Rabies menyerang susunan syaraf pusat yang secara klinis ditandai dengan kelumpuhan yang progresif dan berakhir dengan kematian|Rabies merupakan penyakit zoonosis yang berdampak sangat luas, baik social maupun ekonomi, oleh karena itu perlu mendapatkan prioritas dalam pengendalian dan pemberantasannya. Penyakit anjing gila (Rabies) dikenal juga sebagai Lyssa, Tollwut, Rage, dan Hydrophobia, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus neurotropik dari genus Lyssavirus, family Rhabdoviridae dan ditularkan melalui gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) terutama anjing, kucing dan kera. Rabies menyerang susunan syaraf pusat yang secara klinis ditandai dengan kelumpuhan yang progresif dan berakhir dengan kematian.

Dalam Rangka deteksi terhadap daerah yang bebas, baik bebas historis, maupun bebas vaksinasi serta daerah tertular dan wabah, Karantina Pertanian dalam hal ini Karantina Hewan melakukan kegiatan pemantauan rabies. Pemantauan ini dimaksudkan sebagai langkah awal untuk mengetahui ada tidaknya rabies di suatu wilayah/daerah. Pelaksanaan rabies secara terus menerus selain bertujuan untuk mendeteksi keberadaan rabies, juga di maksudkan untuk mengetahui prevelensinya.

Bertempat di Balai Uji Terap Teknik dan Metoda-Badan Karantina Pertanian-Rawa Banteng, tanggal 20-23 Mei 2010 diselenggarakan TOT Pemantauan Daerah Sebar Penyakit Anjing Gila (Rabies), dengan teknik dan metoda pemantauan berupa:
1. Daerah Bebas Historis
Hewan target utama pada pemantauan didaerah bebas historis adalah anjing liar maupun anjing yang di pelihara. Sampling dilakukan di daerah sebar dan di daerah lainnya yang beresiko tinggi dengan metode sampling detect diseases dengan asumsi prevalensi 5% perkabupaten. Sampel yang diambil adalah serum untuk uji serologis dengan ELISA dan otak untuk uji FAT.
2. Daerah Bebas Vaksinasi
Hewan target utama pada pemantauan didaerah bebas vaksinasi adalah anjing. Sampel yang diambil adalah serum untuk uji serologis dengan ELISA dan otak untuk uji FAT.
3. Daerah Endemis
Sampel pemantauan adalah sampel serum untuk mengukut titer anti bodi protektif dengan uji ELISA. Hewan target utama pada pemantauan didaerah bebas vaksinasi adalah anjing.
4. Daerah Wabah
Metode sampling detect diseases, hewan target utama pada pemantauan didaerah bebas vaksinasi adalah anjing. Sampel yang digunakan adalah serum dengan pengujian ELISA.

TEMU KOORDINASI PEJABAT FUNGSIONAL MEDIK DAN PARAMEDIK VETERINER LINGKUP BARANTAN 2010

Bertempat di Balai Uji Terap Teknik dan Metoda-Badan Karantina Pertanian-Rawa Banteng, tanggal 05-07 Mei 2010 diselenggarakan Temu Koordinasi Pejabat Fungsional Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner Lingkup Badan Karantina Pertanian Tahun 2010.

Kegiatan yang diikuti oleh kurang lebih 70 peserta yang terdiri dari pejabat fungsional MV dan PV yang berasal dari UPT dan Kantor Pusat Barantan ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan teknis fungsional jabatan fungsional medik veteriner dan paramedik veteriner,|Bertempat di Balai Uji Terap Teknik dan Metoda-Badan Karantina Pertanian-Rawa Banteng, tanggal 05-07 Mei 2010 diselenggarakan Temu Koordinasi Pejabat Fungsional Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner Lingkup Badan Karantina Pertanian Tahun 2010.

Kegiatan yang diikuti oleh kurang lebih 70 peserta yang terdiri dari pejabat fungsional MV dan PV yang berasal dari UPT dan Kantor Pusat Barantan ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan teknis fungsional jabatan fungsional medik veteriner dan paramedik veteriner,menyatukan persepsi tentang pemahaman peraturan yang mengatur tentang jabatan fungsional, serta menyatukan tekad dan langkah-langkah operasional pelaksanaan tugas dan fungsi baik teknis maupun administrasi jafung MV dan PV lingkup Barantan.

Acara dibuka secara langsung oleh Kepala Badan Karantina Pertanian (Ir. Hari Priyono, M.Si), dalam sambutannya disampaikan bahwa pejabat fungsional merupakan ujung tombak kegiatan perkarantinaan di exit/entry point. Kegiatan temu koordinasi ini dipandang sangat penting dalam rangka menyatukan persepsi tentang pelaksanaan butir-butir kegiatan fungsional di lapangan, serta merupakan wadah konsultasi dan koordinasi terkait pelaksanaan kegiatan perkarantinaan di lapangan.

Adapun materi kegiatan temu koordinasi ini antara lain : pengembangan jabatan fungsional karantinawan beserta butir-butir kegiatannya, kebijakan teknis karantina hewan, evaluasi pelaksanaan teknis dan administrasi (DUPAK) Pejabat Fungsional MV dan PV lingkup Barantan, dan persiapan penyusunan program aplikasi fungsional karantina hewan. Narasumber dan pembicara acara ini antara lain ; Sekretaris Badan Karantina Pertanian, Kepala Pusat Karantina Hewan, Sekretariat Jabatan Fungsional MV dan PV Barantan, serta Kepala Bidang Informasi Perkarantinaan.

Jabatan Fungsional mulai dikembangkan sejak dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor : 16 tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional PNS, Keputusan Presiden No.87 tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional PNS, serta Menkowasbangpan Nomor 59/Kpts/MK.Waspan/9/1999 tentang Jabatan Fungsional Medik Veteriner dan angka kreditnya, dan Nomor : 60/Kpts/MK.Waspan/9/1999 tentang Jabatan Fungsional Paramedik Veteriner dan angka kreditnya. Keputusan bersama Menteri Pertanian dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1045/Kpts/OT.210/10/1999 dan Nomor 187 tahun 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Medik Veteriner dan angka kreditnya, dan Nomor 1046/Kpts/OT.210/10/1999 dan Nomor 188 tahun 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Paramedik Veteriner dan angka kreditnya.

Seiring dengan perkembangan permasalahan operasional di lapangan, dipandang perlu untuk melakukan evaluasi terhadap pengusulan DUPAK Pejabat Fungsional MV dan PV dengan segala permasalahan dan solusinya, apresiasi tentang kebijakan dan pembinaan teknis perkarantinaan hewan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi jafung MV dan PV, pencerahan dan penyatuan persepsi tentang pengembangan jabatan fungsional karantinawan beserta butir-butir kegiatannya, serta mengapresiasi persiapan program Aplikasi Jabatan Fungsional Karantina Hewan, dimana nantinya dengan adanya program aplikasi ini, para pejabat fungsional akan difasilitasi dalam penyusunan DUPAK beserta pencetakan bukti fisiknya yang akurat dan professional. Temu Koordinasi Pejabat Fungsional Pejabat Fungsional Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner Lingkup Badan Karantina Pertanian yang diselenggarakan pada tanggal 05 sampai dengan 07 Mei 2010 di Rawa Banteng-Cibitung, menghasilkan rumusan yang merupakan .hasil paparan, diskusi serta masukan dari peserta selama acara berlangsung.

Workshop Aplikasi Pemetaan Penyakit Karantina Dalam Lingkup Kegiatan Antar Area dengan Teknologi Digital|Dalam mengantisipasi penyebaran Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) di wilayah Republik Indonesia, perlu adanya pemetaan HPHK yang disusun secara komprehensif dan informatif bagi petugas karantina hewan.

Badan Karantina Pertanian, dalam hal ini Pusat Karantina Hewan mengadakan kegiatan “Workshop Aplikasi Pemetaan Penyakit Karantina Dalam Lingkup Kegiatan Antar Area dengan Teknologi Digital”,|Dalam mengantisipasi penyebaran Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) di wilayah Republik Indonesia, perlu adanya pemetaan HPHK yang disusun secara komprehensif dan informatif bagi petugas karantina hewan.

Badan Karantina Pertanian, dalam hal ini Pusat Karantina Hewan mengadakan kegiatan “Workshop Aplikasi Pemetaan Penyakit Karantina Dalam Lingkup Kegiatan Antar Area dengan Teknologi Digital”, yang diselenggarakan di Rawa Banteng pada tanggal 7-9 Apil 2010 dihadiri oleh seluruh UPT Karantina Pertanian dengan dukungan narasumber yang berkompeten dalam bidang pemetaan berbasis Geographic Information System (GIS) yang berasal dari Badan Karantina Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan, IPB dan CIVAS untuk memberikan pengetahuan dasar dan lanjutan bagi para peserta kegiatan.

Memperhatikan arahan Kepala Badan Karantina Pertanian, presentasi para narasumber dan pembahasan dalam diskusi yang berkembang dihasilkan rumusan Workshop Aplikasi Pemetaan Hama Penyakit Hewan Karantina Dengan Teknologi Pemetaan Digital dalam rangka penyiapan kerangka konsep kebijakan pemetaan HPHK berbasis GIS sebagai berikut:

1. Tantangan terbesar di masa depan dalam perkarantinaan adalah mempertahankan status bebas HPHK di beberapa wilayah kerja Badan Karantina Pertanian dan mencegah penyebaran HPHK antar wilayah dalam Indonesia. Tindakan karantina yang dilakukan petugas karantina hewan di masa mendatang tidak hanya akan bertumpu pada pendekatan administratif dan pendekatan teknis kedokteran hewan, namun pula dengan penggunaan analisa resiko dan kaidah epidemiologi (epidemiologi spasial).
2. Pemetaan HPHK berbasis GIS yang akan disiapkan Badan Karantina Pertanian adalah peta yang akan bersifat spesifik terhadap kebutuhan pelaksanaan tindakan karantina, antara lain dapat dipergunakan sebagai bahan informasi evaluasi pelaksanaan lalu lintas media pembawa, Titik untuk mengendalikan penyakit baru masuk ke Indonesia/ surveilans, Strategi penggunaan zoning dan kompartemenisasi untuk importasi media pembawa, Kesiapsiagaan darurat wabah dalam rangka kawasan karantina, Penentuan tempat pelaksanaan tindakan karantina, Mengkaji pengaruh factor lingkungan terhadap kejadian penyakit, Analisis spasial pola kepadatan populasi terhadap kejadian penyakit (bagi pelaksanaan pemantauan), Alokasi geografis sumberdaya veteriner, serta Analisis beban kerja wilayah kerja karantina.
3. Data yang akan dipergunakan dalam pemetaan HPHK berbasis GIS adalah berasal dari data spasial geografis dan data non spasial, berupa data pemantauan HPHK, data lalu lintas media pembawa, database HPHK, serta data surveilans/investigasi penyakit yang telah dilaksanakan Dirjen Peternakan yang secara detil akan dirinci dalam rapat penyusunan pemetaan HPHK berikutnya.
4. Jenis peta yang relevan dan dapat dipergunakan bagi konsep penyiapan pemetaan HPHK antara lain peta Geo spasial. Penggunaan jenis peta ini akan diperdalam dan diperkaya pengkajiannya dalam pertemuan persiapan berikutnya.
5. Pemetaan HPHK berbasis GIS yang akan dipersiapkan Badan Karantina Pertanian diharapkan dapat sinkron dengan peta serupa yang dimiliki Dirjen Peternakan, serta dapat terintegrasi nantinya dengan SIKHNAS dalam kerangka Sistem Kesehatan Hewan Nasional secara luas.

Ekspor Jagung Gorontalo Kembali Bergeliat

Gorontalo. Setelah mengalami kevakuman hampir enam bulan lamanya, kinerja pemasaran jagung Gorontalo ke luar negeri kembali bergeliat. Buktinya, saat ini di pelabuhan Gorontalo sedang dilakukan pemuatan jagung sebanyak 1.700 ton yang akan dikirim ke Malaysia. Sebelumnya pada awal 2010 lalu Provinsi Gorontalo juga telah mengirim sebanyak 1.800 ton jagung dengan tujuan Philipina. Smementar itu kemarin (30/3), Sekda Provinsi Gorontalo Drs. Idris Rahim, MM melakukan peninjauan proses pengapalan jagung 1.700 ton di Pelabuhan Gorontalo. Sekda Idris Rahim menegaskan, peluang pasar jagung baik ekspor maupun antar pulau masih sangat terbuka lebar. Ini ditandai banyaknya permintaan yang diterima oleh Provinsi Gorontalo baik dari importir maupun dari perusahaan di luar daerah.|Gorontalo- Setelah mengalami kevakuman hampir enam bulan lamanya, kinerja pemasaran jagung Gorontalo ke luar negeri kembali bergeliat. Buktinya, saat ini di pelabuhan Gorontalo sedang dilakukan pemuatan jagung sebanyak 1.700 ton yang akan dikirim ke Malaysia. Sebelumnya pada awal 2010 lalu Provinsi Gorontalo juga telah mengirim sebanyak 1.800 ton jagung dengan tujuan Philipina. Smementar itu kemarin (30/3), Sekda Provinsi Gorontalo Drs. Idris Rahim, MM melakukan peninjauan proses pengapalan jagung 1.700 ton di Pelabuhan Gorontalo. Sekda Idris Rahim menegaskan, peluang pasar jagung baik ekspor maupun antar pulau masih sangat terbuka lebar. Ini ditandai banyaknya permintaan yang diterima oleh Provinsi Gorontalo baik dari importir maupun dari perusahaan di luar daerah.

“Dengan adanya proses pengapalan jagung sebanyak 1.700 ton yang akan dikirim keMalaysia ini membuktikan bahwa peluang pasar jagung Gorontalo masih sangat terbuka lebar”, tegas Sekda Idris Rahim.

Menurut Sekda Idris Rahim memang pada tahun 2009 lalu Provinsi Gorontalo mengalami kehilangan 1 (satu) kali musim tanam. Hal ini disebabkan karena kondisi iklim musim kemarau yang berkepanjangan. Kondisi tersebut berpengaruh pada produksi dan kinerja pemasaran jagung, khususnya ekspor jangung Provinsi Gorontalo keluar negeri. “Alhamdulillah pada 2010, ekspor jagung Provinsi Gorontalo mulai menggeliat” ujar Sekda Idris Rahim.

Oleh karena itu Sekda Idris Rahim menghimbau kepada seluruh petani jagung Provinsi Gorontalo agar terus memacu produksi dan produktifitas. “Mari kita buktikan kembali bahwa Gorontalo dengan program Agropolitan merupakan salah satu daerah pengekspor jagung”, imbau Sekda Idris Rahim.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Diskopperindag Provinsi Gorontalo Syukri J. Botutihe, “petani tak perlu khawatir menyangkut pemasaran jagung”. Pemprov Gorontalo melalui Diskopperindag akan terus mencari peluang peluang pasar untuk komoditi jagung, baik pasar antar pulau maupun ekspor. “Dengan adanya kegiatan ekspor kali ini diharapkan petani dapat memacu dan meningkatkan kembali hasil produksi. Untuk pasar, sampai saat ini masih terbuka lebar’, tegas Syukri.
Lebih lanjut syukri menjelaskan, selain peluang pasar yang terbuka lsebar harga yang ditawarkan oleh buyer (pembeli) juga sangat kompetitif. Untuk ekspor saat ini harga jagung berada pada kisaran Rp. 2.400,- perkilogram. “Oleh karena itu jangan ragu-ragu untuk menanam jagung”, imbau Syukri.

Perwakilan PT Pelayaran Ostem Coporindo Toton mengungkapkan, untuk tahun 2010 ekspor jagung Provinsi Gorontalo menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Sejak awal 2010 Gorontalo sudah mengekspor jagung sebanyak 1.800 ton ke Philipina dan saat ini sebanyak 1.700 ton ke Malaysia. “Pada April nanti akan ada lagi pengiriman kurang lebih 2000 ton melalui pelabuhan Kwandang-Gorontalo.
Sumber: Gorontalo Post (31/3/2010)

SOSIALISASI RABIES OLEH BALAI KARANTINA PERTANIAN KELAS II GORONTALO

November 2009. Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo menyadari akan pentingnya pemahaman publik bahwa Rabies adalah penyakit zoonosis yang sangat berbahaya. Oleh karena itu pada tanggal 30 November 2009, bertempat di Gedung Universitas Gorontalo Convention Center, BKP Kelas II Gorontalo telah menyelenggarakan sosialisasi dengan tema Peran Karantina Pertanian dalam Pengendalian Penyakit Rabies|Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo menyadari akan pentingnya pemahaman publik bahwa Rabies adalah penyakit zoonosis yang sangat berbahaya. Oleh karena itu pada tanggal 30 November 2009, bertempat di Gedung Universitas Gorontalo Convention Center, BKP Kelas II Gorontalo telah menyelenggarakan sosialisasi dengan tema Peran Karantina Pertanian dalam Pengendalian Penyakit Rabies.

Sosialisasi yang dihadiri oleh kurang lebih 150 peserta, yang terdiri dari mahasiswa, tokoh masyarakat, dinas/instansi terkait (dinas yang membidangi kesehatan hewan dan dinas kesehatan) di wilayah Provinsi Gorontalo, diawali dengan pembacaan laporan oleh ketua panitia pelaksana (drh. Apris Beniawan), dan dilanjutkan dengan pengarahan dan sambutan oleh Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo (drh Amir Hasanuddin, MM), dan kemudian dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gorontalo.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber, yaitu drh. Tony Hartono, M.Kes yang membawakan materi “Kebijakan Karantina Pertanian dalam Penanganan Penyakit Rabies”; dr. Hi. Triyoga Suhadi dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dengan materi “Kasus Rabies pada Manusia dan Langkah-langkah Penanganan terhadap Kasus Gigitan”; serta Ir. Afanto Musa dari Dinas Perkebunan dan Peternakan yang membidangi Kesehatan Hewan dengan materi “Rabies dan Penularannya”. Selesai pemaparan, dilanjutkan dengan diskusi dengan para peserta sosialisasi.

SOSIALISASI KARANTINA PERTANIAN TENTANG AKSELERASI EKSPOR JAGUNG GORONTALO

November, 2009. Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo mengadakan Sosialisasi Karantina Pertanian di hotel Quality Gorontalo. Acara ini bertema Peran Strategis Karantina Pertanian dalam Mendukung Akselerasi Ekspor Jagung GorontaloGorontalo mengadakan Sosialisasi Karantina Pertanian di hotel Quality Gorontalo. Acara ini bertema Peran Strategis Karantina Pertanian dalam Mendukung Akselerasi Ekspor Jagung GorontaloGorontalo mengadakan Sosialisasi Karantina Pertanian di hotel Quality Gorontalo. Acara ini bertema Peran Strategis Karantina Pertanian dalam Mendukung Akselerasi Ekspor Jagung GorontaloGorontalo mengadakan Sosialisasi Karantina Pertanian di hotel Quality Gorontalo. Acara ini bertema Peran Strategis Karantina Pertanian dalam Mendukung Akselerasi Ekspor Jagung Gorontalo|Rabu, 18 November 2008, Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo mengadakan Sosialisasi Karantina Pertanian di hotel Quality Gorontalo. Acara ini bertema Peran Strategis Karantina Pertanian dalam Mendukung Akselerasi Ekspor Jagung Gorontalo.Acara di buka oleh Gubernur Gorontalo yang diwakili Assisten II Bidang Pembinaan Masyarakat, H. Abubakar Mopangga. Acara dihadiri oleh 150 peserta yang berasal dari instansi dan masyarakat terkait seperti Pengusaha/Eksportir, Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo beserta jajaranny, Instansi terkait lingkup pelabuhan dan bandar udara, Dinas Pertanian lingkup Provinsi Gorontalo, Penyuluh Pertanian, Pengamat Hama dan Penyakit (PHP, Staf Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo, dan Kelompok Tani.

Acara Inti yaitu diskusi panel dengan tiga pembica yaitu Prof. Dr. Sylvia Sjam M.Si (Guru Besar di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin) menyampaikan materi Upaya Perlindungan Tanaman dari Serangan Hama dan Penyakit dalam Rangka Peningkatan Produksi Jagung, Ir. Yusuf Hamidun (Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo)menyampaikan materi Kebijakan Pemerintah Provinsi Gorontalo Dalam rangka Mendukung Akselerasi Ekspor jagung Gorontalo, Ana Ruhana Salamah, SP. (Koordiantor Jabatan Fungsional Karantina Tumbuhan, Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo)menyampaikan materi tentang Kebijakan Karantina Pertanian dalam Mendukung Akselerasi Ekspor Jagung Gorontalo; berjalan lancar dan diikuti dengan antusias oleh peserta.

SEMINAR PEMANTAUAN DAN UJI COBA PENYAKIT HEWAN KARANTINA DI BALI

Pusat Karantina Hewan – Badan Karantina Pertanian, pada tanggal 5-7 November 2009 menyelenggarakan Seminar Pemantauan dan Uji Coba Penyakit Hewan Karantina, bertempat di Hotel Puri Ayu, Denpasar-Bali|Dalam rangka meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan karantina hewan serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengawasan lalulintas dan tindakan karantina terhadap media pembawa hama penyakit hewan karantina, Pusat Karantina Hewan – Badan Karantina Pertanian, pada tanggal 5-7 November 2009 menyelenggarakan “Seminar Pemantauan dan Uji Coba Penyakit Hewan Karantina” bertempat di Hotel Puri Ayu, Denpasar-Bali.

Seminar dihadiri oleh lebih dari 70 orang undangan berasal dari 51 UPT Barantan, BBUSKP, dan Pusat Karantina Hewan ini dimulai dengan laporan ketua panitia, yang dibawakan oleh drh. Mira Hartati, M.Si (Kepala Bidang Teknik dan Metoda KH). Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa seminar ini akan memaparkan hasil dari pelaksanaan ujicoba karantina hewan yang dilakukan oleh BBUSKP dan BBKP Makassar. Sedangkan untuk pemantauan HPHK adalah Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) dan Paratuberculosis/Johnne Disease.
Acara yang menghadirkan narasumber  berasal dari FKH Universitas Gajah Mada, Balai Besar Penelitian Veteriner(Bbalitvet) dan Direktorat Jenderal Peternakan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Karantina Pertanian, Ir. Hari Priyono, M.Si. Beliau sangat apresiatif dengan diadakannya kegiatan pemantauan ini. Diharapkan dengan pemaparan hasil pemantauan dan uji coba ini dapat dijadikan dasar dalam menentukan tindakan karantina di lapangan, karena  kegiatan pemantauan merupakan implementasi sistem deteksi dini awal penyakit dan sistem pengendalian penyebaran penyakit hewan terutama penyakit hewan strategis dan penyakit zoonosis. Kepala Badan menekankan bahwa pemantauan merupakan dasar dalam mengatasi risiko penyebaran HPHK melalui media pembawa HPHK yang dilalulintaskan dengan menerapkan sistem dan prosedur pemeriksaan karantina terhadap media pembawa HPHK yang berisiko menyebarkan HPHK. Dengan diketahuinya prevalensi penyakit suatu daerah, maka dapat ditentukan tindakan karantina (8P) dan pengawasan lalulintas MP HPHK yang efektif untuk menghentikan penyebaran penyakit.

Menyadari tentang pentingnya peranan Laboratorium sebagai komponen essensial dalam diagnosis dan pemantauan penyakit, maka setelah acara pembukaan dilanjutkan dengan pemaparan hasil uji coba oleh BBUSKP dan BBKP Makassar yang dipimpin oleh Drh. Kisman A Rasyid, MM. Dan sebagai penutup dari serangkaian kegiatan hari pertama ini dilengkapi dengan pemaparan SIstem Informasi Manajemen Laboratorium Karantina Pertanian yang dibawakan oleh drh. Zainal Abidin (Kabid. Informasi Perkarantinaan). Dimana diharapkan dengan adanya SIMLAB UPT KP ini akan semakin meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan karantina pertanian, terutama dalam menyikapi meningkatnya lalulintas MP HPHK di era perdagangan global saat ini.|||| 1266850835|admin|SEMINAR LOKAL HASIL PEMANTAUAN 2009|Provinsi Gorontalo adalah provinsi yang masih belum pernah dilaporkan terjadi kasus penyakit Paratuberculosis dan Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) dimana berdampak pada penurunan hasil produksi budidaya hewan/ternak secara kualitas maupun kuantitas bila terjangkit pada ternak.|Provinsi Gorontalo adalah provinsi yang masih belum pernah dilaporkan terjadi kasus penyakit Paratuberculosis dan Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) dimana berdampak pada penurunan hasil produksi budidaya hewan/ternak secara kualitas maupun kuantitas bila terjangkit pada ternak. Untuk mendukung kelancaran pemantauan daerah sebar HPHK tahun 2009, dimana fokus pemantauan adalah Paratuberculosis (John’n disease) dan Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR), maka BKP Kelas II Gorontalo melakukan pemantauan di satu kota dan lima Kabupaten yang ada di Prov.Gorontalo.

Hasil Pemantauan telah diseminarkan di RM. Samudera Indah Gorontalo pada tanggal 03 November 2009, acara seminar dibuka oleh Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo dan di hadiri oleh Instansi-instansi yang membidangi Kesehatan Hewan di seluruh Provinsi Gorontalo.

JALAN SEHAT DAN PENANAMAN POHON BERSAMA DEPARTEMEN KEUANGAN LINGKUP PROVINSI GORONTALO

1 Nov 2009. Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo pada hari Minggu tanggal 1 Nopember 2009 mengikuti acara Jalan Sehat dan Penanaman pohon yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Perbendaharaan Negara Gorontalo|Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo pada hari Minggu tanggal 1 Nopember 2009 mengikuti acara Jalan Sehat dan Penanaman pohon yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Perbendaharaan Negara Gorontalo.
Acara Penanaman pohon secara simbolis dilakukan di Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo dan Stasiun Karantina Ikan Kelas I Jalaluddin Gorontalo yang dihadiri oleh berbagai Instansi seperti kepala Kanwil Perbendaharaan Negara Gorontalo, Kepala DJP gorontalo, Kepala KPPN Gorontalo, dan Kepala Bea dan Cukai gorontalo. Setelah pelaksanaan penanaman pohon secara simbolis, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan jalan sehat yang diikuti oleh berbagai instansi lainnya seperti instansi perbankan, PT. POS Indonesia, Stasiun Karantina Ikan Kelas I Jalaluddin Gorontalo. Pelaksanaan Jalan Sehat dan Penanaman pohon merupakan wujud kepedulian terhadap perubahan iklim global dan juga sebagai salah satu bentuk Public Awareness.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.